Presiden RI Harus Noto Negoro

Diupload oleh muthofar hadi pada 22 Oct 2013 11:16

 Notonegoro dalam bentuk kata atau frase Noto Negoro berasal dari bahasa Jawa. Noto berarti menata dan negoro memiliki dua (2) arti yaitu (1). Negoro berarti Negara, dan (2) negoro berarti menebang/tebanglah. Contoh dalam kalimatnya adalah sebagai berikut:

 wong Jowo(1). Negoro berarti Negara

Negoro RI merdeko soko jajahan asing wiwit proklamasi tanggal 17 Agustus 1945.

(Negara RI merdeka dari penjajahan asing sejak proklamasi tanggal 17 Agustus 1945)

(2). Negoro berarti menebang/tebanglah

Kowe negoro wet gedang ngarep omah seng wohe wis suluh.

(Kamu tebanglah pohon pisang di depan rumah yang buahnya sudah matang)

Namun selain kedua makna tersebut ada makna lain yang sudah popular dimasyarakat yaitu singkatan dari nama-nama presiden di RI. Noto singkatan dari nama terakhir presiden RI seperti Soekarno, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan to juga singkatan dari nama terakhir presiden RI seperti Soeharto dan mungkin Presiden RI di tahun pemilu 2014.

Pengertian tersebut sudah tertulis dalam buku Jayabaya, yang banyak makna dalam mengartikannya. Salah satu makna yang baru adalah bahwa dalam frase NOTO NEGORO menunjukkan urutan Presiden RI dengan akhiran nama NO disusul akhiran nama TO kemudian ada spasi menandakan adanya perubahan kepemimpinan yang nama penggantinya tidak sesuai urutan NOTO.

Sehingga yang terjadi bukan Negara namun menumbangkan pemimpin Negara. Sehingga kepemimpinan agar bisa mewujudkan Negara mestinya kembali kepada nama seseorang yang berakhir NO dan ketemu Susilo Bambang Yudhoyono dengan pemilihan langsung sampai 2 periode. Sehingga sesuai frase noto negoro seharusnya kepemimpinan di RI tahun 2014-2019 dipimpin oleh seseorang yang nama belakangnya berakhiran TO. wallahua’lam.

Namun presiden RI setelah SBY (SBYudhoyono) baru akan ditentukan setelah pemilu Presiden pada tahun 2014 yang salah satu calon presidennya yang sudah dideklarasikan oleh partai HANURA adalah Jend. (Purn) Wiranto. Semua masih dalam pencalonan belum pada kepastian.

Belajar dari sejarah bahwasanya kata NEGORO selalu dibelakang atau mengiringi kata NOTO dan SPASI dalam frase noto negoro. Sejarah sudah mencatat bahwa Presiden Soekarno dan Soeharto meskipun dicintai rakyatnya namun berakhir dengan demonstrasi atau diturunkan/ditumbangkan/ditebang. Hal tersebut dikarenakan mereka berdua tidak bisa mewujudkan Negara RI adil dan sejahtera. Sehingga mereka merubah arti Negara dari kata negoro menjadi perintah kepada rakyat untuk menumbangkan mereka.

Sejarah pada era setelah kepemimpinan NOTO adalah era peralihan dan reformasi dimana waki Presiden BJ Habibie melanjutkan kepemimpinan Soeharto sebagai Presiden RI dari 1998 sampai 1999 hingga dilaksanakan pemilu multi partai yang dipercepat dari jadwal pemilu di tahun 2002.

Setelah pemilu multi partai di tahun 1999 terlaksana maka terpilih Gus Dur sebagai Presiden RI dalam sidang umum MPR RI dengan wakil Presiden Ibu Megawati Soekarnoputi. Masa jabatan seorang presiden di RI adalah 5 (lima) tahun. Namun lagi-lagi dalam era SPASI ini mereka lupa dengan aturan NOTO NEGORO, bahwa merekasebagai pemimpn di RI harus menata Negara, dan apabila Negara tidak terbentuk secara adil dan sejahtera serta utuh maka Negara yang didalamnya ada rakyat akan menumbangkan mereka. Dan hal ini terwujud dengan adanya kasus bruneigate dan bulogate yang menimpa Gus Dur sehingga beliau harus lengser dan digantikan oleh Megawati Sukarnoputri sebagai Presiden RI yang sebelumnya sebagai wakil Presiden RI hingga akhir masa jabatan berakhir pada tahun 2004.

Tahun 2004 adalah era baru perpolitikan di RI, dimana Presiden dipilih langsung oleh rakyat dalam pemilu Presiden yang dilaksanakan setelah Pemilu Legislatif dalam rangkaian Pemilu 2004. Pada era baru meskipun bukan orde baru tersebut terpilih SBYudhoyono sebagai Presiden yang berpasangan dengan Yusuf Kalla. Dan mereka berdua berhasil memimpin Negara RI dalam 1 masa jabatan 5 tahun hingga selesai. Bahkan pada pemilu presiden tahun 2009 SBYudhoyono kembali terpilih sebagai Presiden RI berpasangan dengan Budiyono.

Pada pemilu 2014 nanti SBYudhoyono sudah tidak memiliki hak dicalonkan atau mencalonkan diri sebagai Presiden RI. Karena SBY sudah memimpin RI sebagai Presiden dalam 2 periode meskipun wakil presidennya berbeda-beda. Hingga hari ini SBY-Budiyono masih belum genap 5 tahun menjabat dengan menyisakan beberapa bulan lagi hingga sampai hasil pemilu Preiden RI 2014 diumumkan.

Kitapun masih menunggu apakah SBYudhoyono akan berakhir dengan mewujudkan Negara atau akan tumbang karenanya, sehingga terulang kembali era orla dan orba di RI. Kita harapkan hal itu tidak terjadi. Kita berharap masih ada lembaga hukum yang bisa digunakan untuk menegakkan Negara tidak perlu dengan demonstrasi. Kekuatan Negara yang konstitusional akan lebih kuat meskipun menghakimi para mantan petinggi Negara. Negara RI akan bisa berhasil dari pada masa orla dan orba. Sehingga dengan pemimpin yang bisa noto negoro kepemimpinan selanjutnya akan menjadi lebih baik.

Rumus kepemimpinan noto negoro bukan pada siapa yang memimpin namun bagaimana mereka memimpin, dengan kemampuan menata Negara yang baik maka Negara akan terwujud adil, sejahtera, dan utuh tidak menumbangkan pemimpinnya. Namun sebalikya meskipun pemimpinnya berakhiran nama no atau to apabila tidak mampu menata Negara dengan mewujudkan Negara yang utuh maka Negara akan menumbangkannya.

Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar
Loading comments...