Situs komplek Plaosan: representasi nyata asimilasi SARA

Situs komplek Plaosan: representasi nyata asimilasi SARA

Diupload oleh Iwan Soegita pada 12 Jan 2014 13:09

Kompleks situs candi Plaosan.

Terletak sekitar 1KM di sebelah timur komplek situs candi Prambanan-candi Sewu, masuk di wilayah Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Indonésia. 

Sebuah kompleks candi Buddha (Plaosan Lor) dan Hindu (Plaosan Kidul) , dibangun semasa dinasti keturunan Sanjaya, sebuah monumen sebagai hadiah perkawinan Rakai Pikatan (Dinasti Sanjaya) yang memeluk agama Hindu (Siwa) dengan putri sulung çailendra Samaratungga, Pramodawarddhani. Awal kekuasaan çailendra atas keturunan Sanjaya, dimana Çailendra memberikan perdikan Kalasa (sekarang Kalasan) dengan membangun candi Kalasan (sebagai samana pemujaan Dewi Tara/Apsara). Hal tersebut dicatat dalam prasasti Kalasan AD 832.

Kompleks Plaosan adalah satu-satunya kompleks candi di Indonesia yang memiliki dua bangunan candi utama, dimana dibuat simetris 

Hanya saja saat ini proses ekskavasi serta restorasi terkendala anggaran untuk membeli kembali area kompleks situs yang sudah menjadi area pemukiman, jalan raya, lahan sawah penduduk sekitar. Banyak sekali bagian dari batu bangunan kompleks candi bahkan dijadikan pondasi rumah oleh penduduk sekitar kompleks Plaosan, sebagian sudah diminta kembali, masih banyak proses untuk mengembalikan situs Plaosan seperti Awal. Pihak terkait juga pemerintah belum memprioritaskan anggaran untuk membuat kompleks Plaosan steril dari kondisi di atas. 

Ada keyakinan arkeolog yang saat ini merestorasi situs Plaosan, bila dapat dikembalikan seperti awal, akan menjadi sebuah Mahakarya lain seperti halnya candi Borobudur. Karena satu2nya kompleks candi di Indonesia yang memiliki arsitektur simetris, dari utara ke selatan adalah kompleks candi Hindu, Plasa bagian Utara (area terbuka) dengan banyak patung, kompleks candi Buddha, candi Buddha, Plasa bagian Selatan, dan kompleks candi Hindu (sekarang Plaosan Kidul). 

Akankah semua ini dapat terwujud?

Bila belum, paling tidak kita dapat membuat sebuah dokumentasi jejak peradaban, di mana semua anak bangsa dapat bercermin, bahwa bangsa ini mempunyai jejak kedamaian akulturasi, asimilasi, kerukunan agama, Ras, hidup dalam suasana harmoni.

Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar
Loading comments...