Benarkah Tambang Menguntungkan?

Benarkah Tambang Menguntungkan?

Diupload oleh Intan Hamid pada 28 Dec 2013 21:14

Tidak bisa dipungkiri, keberadaan tambang di suatu daerah bak durian runtuh. Daerah yang kaya akan sumber tambang, maka pasti dikenal dimana-mana dan rakyatnya diharapkan makmur sejahtera. Apakah benar demikian?
Oleh:INTAN HAMID

Peneliti senior Anto Sangadji lebih cenderung melihat aktivitas tambang ke arah penciptaan teknologi. Ia menyamakan antara pertambangan dan kemajuan teknologi canggih yang diciptakan kaum kapitalis. Teknologi menurutnya, seperti telepon genggam, mobil, motor, laptop dan jenis-jenis teknologi lainnya, diciptakan tidak untuk menguntungkan masyarakat tapi malah menguntungkan perusahaan industri tersebut.
Mengapa? Karena proses pembuatan barang-barang elektronik sebagian besar diantaranya berasal dari bahan tambang seperti nikel. Dengan kata lain, jika masyarakat menggunakan salah satu dari barang elektronik, berarti, masyarat itu juga turut serta menyumbangkan efek rumah kaca pada bumi.
“Sayangnya rakyat tidak menyadari hal itu. Tanpa kita sadari, keberadaan teknologi malah merugikan kita sendiri, kaum kapitalis yang niatnya hanya untuk menguntungkan dirinya sendiri itu, dalam iklan-iklan produknya selalu mempromosikan kemudahan teknologi, katanya gaul kalau tidak pakai HP ini, padahal, produksi HP, mobil, motor dan segala benda-benda yang dekat dengan kita itu malah akan menyusahkan kita nantinya,”katanya, pada dialog konsolidasi Indonesia Timur, yang diselenggarakan Yayasan Tanah Merdeka, Jumat (20/12/2013).
Hal yang paling miris menurut Anto dilihat dari penggunaan teknologi pada parusahaan tambang. Yang juga menurutnya hanya merugikan rakyat. Kemajuan teknologi menjadikan perusahaan tambang, tidak menggunakan jasa besar pekerja tetapi lebih berharap pada mesin.
“Ada perusahaan tambang yang dari tahun ke tahun keuntungannya bertambah, tetapi dari tahun ke tahun itu juga, perusahaan tersebut tidak pernah menambah jumlah pekerjanya. Apa yang mereka andalkan? Ya mesin. Tenaga manusia tidak lagi diharapkan. Saya benar-benar terpukul dengan salah satu pernyataan bos perusahaan industri, ia mengatakan, jika buruh mogok terus-menerus, maka mereka akan menggantikan tenaga mereka dengan mesin. Sangat ironi. Padahal, keberadaan pabrik diharapkan dapat menyerap tenaga kerja,”paparnya.
Hal lain lagi yang dinyatakan Anto adalah, keberadaan peraturan nasionalisme Sumber Daya Alam (SDM) yang dibuat oleh pemerintah. Nasionalisme SDM dikatakan akan menarik pajak perusahaan lebih besar dari sebelumnya yakni 60 persen sementara perusahaan 40 persen, sehingga diharapkan dapat lebih menguntungkan negara. Tapi, lagi-lagi Anto mengatakan, hal itu bisa dipolitisir, pajak yang semakin besar tersebut, bisa dikeruk oknum-okum pemerintah untuk memperkaya diri, apalagi jika jelang pemilihan daerah.
Sementara itu, dari Jatam, Syahrudin Ariestal mengungkapkan, saat ini, kapitalis bukan hanya ada pada kaum-kaum borjuis, tapi juga masyarakat yang meminjamkan lahan kepada perusahaan dengan harapan mendapatkan keuntungan dari hasil pertambangan atau perkebunan.
“Orientasi masyarakat inilah yang perlu diubah. Karena sangat sulit bagi kita, untuk melakukan relokasi atau pemindahan tempat rencana industri, kalau kita pada akhirnya harus berkonflik dengan masyarakat sekitar, yang merasa diuntungkan dari masuknya perusahaan tambang. Maka dari itu, sebenarnya saat ini, hal yang paling krusial dilakukan adalah melakukan pemberdayaan di masyarakat petani. Kita beri pemahamam mereka agar tidak mudah terbawa iming-iming perusahaan. Dengan harapan, pentani jangan mau menjual lahannya untuk kepentingan seperti itu padahal malah merugikan mereka,”katanya.
lain halnya dengan aktivis dari organisasi Politik Rakyat, Zely Ariani, yang mengajak kepada peserta dialog agar tidak hanya melakukan aksi penolakan tapi juga harus melakukan tindakan. Ia menganggap tambang hanya akan masyarakat terutama perempuan.
“Masuknya tambang di suatu daerah malah bukan memperbaiki pertumbuhan ekonomi, tapi malah memperburuk keadaan. Kita lihat saja, di daerah-daerah, apa ada perusahaan tambang atau perkebunan yang begitu masuk di daerah langsung membangun sekolah, rumah sakit? tidak ada. Bahkan kita juga masih temukan rumah-rumah kumuh di daerah tersebut,”ujarnya.
Akan tetapi, dampak yang paling nyata menurut Zely yakni maraknya praktek prostitusi di daerah yang memiliki tambang.
“Saya yakin kalau ada tambang pasti ada lokalisasi. Perempuan menjadi korban eksploitasi. Pendidikan prostitusi semakin marak. Untuk itu saya meminta, kekuatan kita memang agak sulit untuk menolak masuknya tambang, jadi kita mesti melakukan kontrol pada aktivitas pertambangan itu,”harapnya.
Pemaparan dari tiga narasumber tersebut, sama halnya dengan membuka mata, jika sebagian dampak itu ada pada lingkungan kita bahkan pada diri kita. Tambang, memang sangat bermanfaat karena menyangkut kebutuhan, tapi sifat kontrol aktivitas tambang tidak boleh dibiarkan pada pamerintah melainkan juga harus melibatkan masyarakat banyak dan harus menjadi isu terpenting.

Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar
Loading comments...